Tampilkan postingan dengan label bagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bagi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Oktober 2013

Internet Bagi Dunia Pendidikan
Jika saja kita di dunia pendidikan diijinkan untuk membangun infrastruktur Internet-nya sendiri. Jika saja alokasi dana tidak di korup, tidak di alokasikan untuk hal yang tidak-tidak. Jika saja para pejabat, pemimpin, rektor, kepala sekolah, ketua yayasan, mengerti arti keberadaan infrastruktur Internet. Pada dasarnya biaya yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur Internet di dunia pendidikan adalah sekitar Rp. 5000 / siswa / bulan.
Bahkan untuk perguruan tinggi, biaya tersebut dapat di tekan menjadi amat sangat murah dengan akses kecepatan tinggi 11Mbps. Investasi peralatan komputer,jaringan lokal, server umumnya dapat kembali dalam waktu 1-2 tahun saja. Jadi seluruh proses adalah swadaya masyarakat kampus, tidak perlu tergantung pada dana utangan dari ADB, IMF, Bank Dunia.
Detail bisnis plan untuk investasi dan pengembalian modal infrastruktur Internet bagi dunia pendidikan dapat diperoleh secara gratis di:
  • http://www.bogor.net/idkf
  • http://opensource.telkomspeedy.com/speedyorari/
Walaupun secara finansial & teknologi sangat memungkinkan, ada dua (2) hal yang sangat menghambat perkembangan keberadaan Infrastruktur Internet untuk dunia pendidikan, yaitu:
  • Pimpinan yang lambat berfikir, dan lambat bereaksi terhadap perkembangan. Biasanya pimpinan tipe ini, takut atau tidak mau bergerak sebelum ada perintah dari DIKNAS.
  • Keberadaan teknisi, ahli yang mengerti menginstalasi, mengoperasikan dan memelihara infrastruktur Internet.
Khusus untuk point yang ke dua, sebetulnya kalau saja mau membaca-baca (Iqra) berbagai buku komputer yang ada di Gramedia sebetulnya tidak terlalu sukar untuk memperoleh keahlian yang dibutuhkan. Alternatif lain, jika telah terkait ke Internet, pengembangan keilmuan dapat dilakukan dengan cara aktif berpartisipasi dalam banyak mailing list yang membahas masalah Internet dan keilmuan.(Onno W Purbo)
Source: http://belajar.internetsehat.org

Artikel lain yang mungkin Anda sukai :
Tips Agar Anak Anda Tak Buka Situs Porno10 fakta menarik yang Anda tidak tahu tentang InternetApa Itu Firewall dan Bagaimana Cara Mengatur Setting FirewallMasa Depan e-Learning, Kesempatan Untuk Belajar Lebih Cepat dan EfisienGoogle Memperingatkan Target Baru CyberattackOrang Jepang Tidak Banyak yang Menjadi Anggota FaceBook24 Jejaring Sosial Asli Buatan IndonesiaHati-hati, Teman Anda Di Facebook Kemungkinan Adalah Bot4 Tips Dasar Tentang Manajemen WaktuTips Agar Terhindar dari Penipuan Dunia Maya

Manfaat Puasa Untuk Kesehatan
Selama ribuan tahun, puasa adalah suatu bentuk ibadah yang lazim dilakukan oleh manusia. Kita bisa melihat catatan sejarah yang merekam praktik puasa sebagai ritual yang dipercaya, bisa memberi kesehatan bahkan keabadian. Orang Mesir Kuno percaya bahwa kelebihan makan bisa mendatangkan penyakit sehingga perlu dilakukan pengurangan asupan makanan ke dalam tubuh, yaitu dengan praktik puasa. Selain itu, Phytagoras, seorang filsuf Yunani Kuno, percaya bahwa berpuasa bisa memurnikan pikiran manusia karena puasa bisa menghilangkan racun dari tubuh. Belum lagi, kepercayaan orang-orang Inca di Peru dan suku-suku asli Amerika lainnya yang melakukan puasa sebagai bentuk penebusan dosa.Pada kehidupan modern, puasa sebagai bentuk ibadah dapat ditemukan pada empat agama besar dunia, yaitu Islam, Kristen, Yahudi, dan Buddha.

Setiap agama memiliki bentuk puasa yang khas, baik dalam metode maupun hari pelaksanaannya. Sebagai contoh, saat ini sekitar lebih dari satu miliar Muslim melakukan puasa Ramadhan setiap tahun, begitu juga dengan jutaan orang Yahudi yang berpuasa di hari Yom Kippur. Belum lagi puluhan jutaan orang Hindhu yang berpuasa di hari Ekadashi.

Secara umum, puasa adalah keadaan di mana tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman, dari waktu fajar sampai waktu terbenamnya matahari. Hal ini berarti tidak ada asupan senyawa glukosa dalam tubuh kita selama berpuasa. Sebagai bahan bakar utama otak, absennya senyawa glukosa ini diduga menyebabkan berkurangnya daya atau kinerja otak dalam berpikir selama berpuasa. Benarkah demikian?

Dunia sains mengartikan akal budi sebagai kognisi yang meliputi berbagai proses mental untuk mendapatkan pengetahuan. Contohnya adalah berpikir, mengingat, memutuskan sesuatu, dan memecahkan masalah. Semua contoh itu adalah fungsi yang membentuk bahasa, imajinasi, persepsi, dan perencanaan (Wagner 2009). Fungsi-fungsi tersebut diproses dalam otak yang memiliki jutaan sel saraf. Nah, sel saraf inilah yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses mental.

Seperti sel-sel tubuh lainnya, sel saraf memerlukan energi yang cukup untuk bekerja dengan baik dan benar. Energi ini hanya datang dari glukosa. Oleh karena itu, untuk menjalankan fungsi mental, otak manusia memerlukan glukosa yang cukup. Dengan asumsi ini, puasa sebagai kondisi di mana makanan tidak masuk ke dalam tubuh dalam waktu tertentu, diduga dapat menurunkan kualitas proses mental yang ada di dalam otak.

Akan tetapi, fakta membuktikan bahwa kurangnya glukosa pada saat puasa tidak menghambat pemenuhan kebutuhan glukosa di dalam otak. Bagaimana pun juga, tubuh kita adalah sistem pengatur energi yang canggih. Tubuh selalu bisa menjaga keseimbangan (homeostatis). Jadi, ketika tubuh mendeteksi adanya kekurangan glukosa maka glukosa tambahan, akan dibentuk dari sumber lainnya yang ada di dalam tubuh, seperti glikogen dan protein. Pembentukan glukosa yang baru ini (glukoneogenesis) membuat ketersediaan glukosa di dalam otak menjadi seimbang (Rochmyaningsih 2009). Dengan cara seperti itulah, otak manusia dapat bekerja normal pada saat puasa harian, seperti puasa Senin-Kamis dan juga puasa Ramadhan.

Seperti yang kita ketahui, dewasa ini makanan sampah (junkfood) berlimpah. Banyak sekali kita temukan orang yang jarang berpuasa dan mengonsumsi makanan secara berlebihan, entah itu sering mengonsumsi mi instan, makanan manis, makanan cepat saji (fast food), makanan berlemak, dan lain sebagainya. Fenomena ini merupakan hal yang buruk bagi kesehatan orang bersangkutan. Tingginya konsumsi makanan yang tidak sehat, bisa mengakibatkan tingginya aktivitas sistem tubuh. Kita membuat sistem tubuh kita lelah dengan makanan-makanan yang kita masukkan secara berlebihan. Tidaklah heran, jika pola makan yang tidak sehat ini bisa mengakibatkan penyakit, seperti obesitas dan juga diabetes (Halberg 2005). Perlu kita ketahui di sini bahwa diabetes adalah penyakit yang bisa mengundang penyakit lainnya, seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, dan juga karsinoma (Bartness et al 2002).

Nah, dengan puasa berselang-seling, sebagai bentuk pembatasan kalori, kita bisa mencegah penyakit-penyakit ini. Dengan asupan makanan yang berkurang, kita bisa membuat sistem pencernaan tubuh kita beristirahat, berhemat dalam menggunakan makanan yang masuk, dan mendapatkan fungsi metabolisme tubuh yang optimal (Haldberg et al 2005). Puasa berselang-seling juga dapat meningkatkan sensitivitas hormon insulin sehingga menguntungkan bagi pengaturan glukosa dalam tubuh (Anson 2003).

Di Indonesia, kebanyakan Orang menyalahkan puasa sebagai hal yang membuat mereka kurang berkonsentrasi saat bekerja. Padahal, sebenarnya yang mengganggu mereka adalah sensasi lapar. Sensasi ini memang dapat mengganggu konsentrasi karena di proses dalam otak juga. Akan tetapi, kita dapat mengabaikan sensasi ini jika kita benar-benar berkonsentrasi penuh pada pekerjaan kita. Faktanya, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa puasa harian menyebabkan berkurangnya kinerja otak dalam berpikir. Puasa aman untuk diamalkan. Tapi, apa yang menyebabkan puasa layak disebut gaya hidup yang sehat?

Apa yang menyebabkan puasa bermanfaat bagi kesehatan. Puasa berselang-seling merupakan salah satu bentuk pembatasan kalori (caloric restriction). Pembatasan kalori adalah usaha membatasi jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Maka dari itu kita semua jangan takut untuk berpuasa, karena puasa sangat bermanfaat bagi kesehatan dan disamping itu juga mencegah sifat konsumerisme di tengah budaya masyarakat indonesia.

Source: http://jalanayam.blogspot.com/

Manfaat Lemak Esensial Bagi Tubuh
Lemak sering dianggap sebagai biang kegemukan penyebab berbagai macam penyakit kronis. Namun benarkah semua jenis lemak merugikan tubuh?

Lemak merupakan satu zat gizi sebagai sumber energi dan pelarut vitamin. Lemak terdiri dari asam lemak jenuh  (SAFA), lemak trans (TFA) serta asam lemak tak jenuh yaitu asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) dan asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA).
Konsumsi lemak jenuh berlebihan  akan menaikkan kadar lemak darah dan kolesterol penyebab risiko penyakit kronis seperti jantung koroner, stroke, kelainan lemak darah dan hipertensi.

Fakultas Kesehatan Masyarakat UI menyatakan dari hasil riset kesehatan dasar terhadap konsumsi lemak, ditemukan bahwa konsumsi lemak orang Indonesia secara kuantitas sudah cukup namun kualitasnya tidak memadai.

Orang masih mengonsumsi lemak dari makanan tidak sehat seperti makanan siap saji, gorengan dan lain-lain.

Kebiasaan makan makanan dengan lemak jahat tak hanya terjadi pada masyarakat yang sering mengosumsi makanan siap saji.

Kalangan menengah bawah jarang mengonsumsi makanan siap saji ternyata banyak mengasup gorengan juga rentan terhadap lemak trans berlebih akibat minyak yang dipakai berulang-ulang.

Sebaiknya ada pengaturan berapa porsi lemak yang dikonsumsi agar tubuh beroleh manfaat terbaik. Dari total 30 persen asupan lemak, sebaiknya lemak jenuh 10 persen, 20 persen lemak tak jenuh terdiri dari lemak tak jenuh jamak, 6-10 persen dan lemak tak jenuh tunggal 10 persen.

Asupan asam lemak esensial yang seimbang antara omega-3 dan omega-6 bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskular, sistem syaraf dan hormon. Asam lemak esensial juga memperbaiki penyerapan nutrisi, menjaga daya tahan sel dan kesehatan.

Sumber makanan omega 3 dan 6  diantaranya berbagai jenis ikan, biji-bijian, telur, daging, dan aneka  minyak seperti canola, VCO, evening primerose, biji bunga matahari, borage oil, dan blackcurrant oil.
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!